Mengenal Gaya Belajar Anak

Apa yang anda lakukan ketika memiliki mesin cuci baru dan belum pernah tahu bagaimana cara menggunakannya, dan apa yang biasanya anda lakukan agar bisa menguasai dan mengoperasikannya secara optinal?

Mungkin diantara anda ada yang membaca buku panduan petunjuk penggunaan. Tapi, ada pula yang langsung coba-coba alias trial and error, mau mencuci malah mengeringkan. Namun, lama-kelamaan anda akan tahu dan hafal juga cara mengoperasikannya. Selain itu, mungkin ada juga orang yang bertanya langsung kepada penjual mesin cuci tersebut, atau lebih suka bertanya kepada teman atau tetangga yang memiliki mesin cuci yang sama.

Nah, cara anda mempalajari cara pengoperasian mesin cuci tersebut yang di sebut dengan gaya belajar individu atau tipe belajar individu ( personal Learning Style) anda yang paling dominan. Begitu pula dengan cara anak kita mempelajari sesuatu, pasti masing-masing anak mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda. Dari berbagai teory tipe belajar, pendekatan yang paling banyak digunakan adalah tipe belaja Visual, Auditori dan Kinestetik.

Ketiga tipe belajar tersebut berasal dari konsep percepatan belajar (Accelerated Learning) yang dikembangkan sejak tahun 1920-an oleh Fernald, Keller, Orton, Gillingham, Stillman, dan Montessori. Tipe belajar Visual lebih dominan menggunakan indra penglihatan, tipe Auditori lebih dominan menggunakan indra pendengaran dan tipe kinestetik lebih dominan menggunakan indra perasaan dan pergerakan. Konsep tersebut cukup sederhana, namun aplikasi dan pengembangannya sangat luas dan dapat menjangkau tipe belajar lain.

Kadang-kadang gaya belajar dominan seorang anak bisa berubah-ubah untuk suatu tugas yang berbeda-beda. Misalkan saja ketika masih di taman kanak-kanak (TK) anak “dipaksa” menerima informasi baru secara Kinestetikkal karena belum bisa membaca dan menulis, serta belum bisa memahami dengan mudah apa yang dijelaskan guru di kelas. Jadi, cara pembelajarannya adalah dengan bermain dan praktik langsung.

Saat anak duduk di bangku SD dan sudah mulai bisa membaca, mencatat, dan menulis, gaya belajar yang “terpaksa” sering anak gunakan adalah visual dan auditori. Dan, saat kuliyah, anak lebih sering mendengarkan dosen menerangkan sehingga gaya belajar yang “terpaksa” paling sering digunakan adalah auditori.

Padahal, sebenarnya setiap anak mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda. Salah menerapkan gaya belajar pada anak, bisa-bisa anak kita tidak bisa mengoptimalkan potensi dan kreatifitas yang dia miliki. Oleh karena itu, yuk kita belajar kira-kira anak kita mempunyai gaya belajar apa? Sehingga kita bisa membantu mereka belajar dan mengoptimalkan potensinya.

1.       Tipe Belajar visual

Seseorang dengan tipe belajar Visual adalah tipe belajar yang cenderung menerima informasi yang paling baik dan efektif dengan menggunakan indra penglihatan (Visual).

Ciri-ciri umum, yaitu:

  • Suka membaca apa saja dan membaca dengan cepat
  • Lebih suka membaca dari pada di bacakan
  • Cenderung menyukai lukisan dari pada musik
  • Suka membuat coretan saat berfikir dan mencatat
  • Lebih mudah mengingat apabila belajar langsung dari catatan / hand out
  • Tulisan tangan biasanya cukup bagus dan rapi
  • Konsentrasi tidak terlalu terganggu oleh konsentrasi
  • Penampilan cenderung rapi (necis)
  • Saat berpikir bola mata lebih sering bergerak-gerak ke atas
  • Tutur bicaranya cepat dan nada suaranya cenderung tinggi
  • Tidak pandai memilih kata-kata ketika berbicara

 Tips dan Strategi Pembelajaran Visual

  • Pilihlah buku-buku yang berisi banyak ilustrasi gambar dan grafik/ diagram
  • Gunakan highlighter untuk menandai hal-hal yang penting
  • Perhatikan penerangan tempat belajar
  • Aktif mencatat ketika belajar ( sekolah / seminar)
  • Gunakan Mind Map

 

 2.       Tipe Belajar Auditori

Seseorang dengan tipe belajar auditori adalah tipe belajar yang cenderung menerima informasi yang paling baik dan efektif dengan memakai indra pendengaran (audio).

Cirri-ciri umum, yaitu:

  • Suka mendengarkan musik
  • Mudah terganggu dengan suara lain saat belajar.
  • Suka menggumam saat membaca
  • Saat bekerja atau berpikir suka berbicara pada diri sendiri
  • Belajar dengan apa yang didiskusikan
  • Pandai berbicara dan merupakan pembicara yang fasih
  • Saat berfikir bola mata cenderung bergerak ke kiri dan kanan

Tips dan Strategi Pembelajaran Auditori:

  • Lagukanlah apa yang ingin diingat
  • Suasana belajar sunyi dan tenang
  • Rekam materi pembelajaran dalam kaset dan dengarkan sebelum tidur
  • Ikut berpartisipasi dalam diskusi

 

3.       Tipe belajar kinestetik

Seseorang denga tipe belajar kinestetik cenderung menerima informasi yang paling baik dan efektif dengan melibatkan gerakan tubuh ( gerak, menyentuh dan melakukan).

Cirri-ciri umum, yaitu:

  • Tidak betah duduk di kursi lama-lama
  • Penampilan cenderung kurang rapi
  • Tempo bicaranya lambat
  • Belajar tidak mudah terganggu oleh situasi sekitar
  • Belajar melalui manipulasi dan praktek
  • Saat berpikir bola mata cenderung bergerak-gerak ke bawah

Tips dan Strategi Pembelajaran Kinestetik:

  • Jangan paksa untuk belajar berjam-jam
  • Izinkan mengunya permen karet ketika belajar
  • Izinkan untuk belajar sambil mendengarkan music (karena biasanya kaki dan tangan akan digerak-gerakan)
  • Gunakan highlighter yang kontras
  • Perbanyak frekuensi break atau jeda istirahat

Pada dasarnya dalam menerima informasi, setiap anak akan memakai ketiga tipe belajar tersebut. Akan tetapi, biasanya hanya ada satu tipe belajar yang paling dominan. Semakin banyak unsur ketiga tipe belajar ini kita libatkan, semakin baik informasi yang diterima dan dipahami oleh anak.

7 thoughts on “Mengenal Gaya Belajar Anak

  1. klo anak mbarepku pake 2 tipe pertama mba.
    yg jelas aku tdk pernah memaksakan belajar kepadanya. as long as she’s in fun situation, it’s the best way to make her learning something😉 alias belajarnya kadang2, banyak main dan cerita aja. lumayan berhasil selama ini. sampai dg naik ke kelas 4 SD ini Alhamdulillah nilainya bagus2 dan ranking terus meskipun belajarnya pake metode awut2an ala emaknya😀

  2. Selama ini saya juga ngga terlalu memperhatikan cara belajar anak saya, mbak Ade. Semua dipasrahkan pada guru sekolah dan guru les privat, ih orang tua macam apa ya saya? Iya sih ternyata penting juga ya mbak memperhatikan cara belajar anak seperti yang ditulis di artikel ini🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s