Saatnya menyelamatkan ibu dan bayi dengan SMSbunda

Salah satu negara di Asia Tenggara dengan kematian ibu tertinggi adalah Indonesia. Tidak jauh berbeda dengan kematian bayi baru lahir hingga mencapai 60% dari keseluruhan kematian bayi dibawah umur satu tahun. Hal ini disebabkan kurangnya informasi yang diterima masyarakat mengenai tanda-tanda komplikasi kehamilan, persalinan maupun perawatan pasca persalinan.

Hal itulah yang membuat pemerintah sadar akan pentingnya menyebarkan informasi dan mengedukasi masyarakat kita akan pentingnya pengetahuan tentang seputar kehamila hingga pasca melahirkan.
Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan JHpiego, afiliasi dari Johns Hopkins University mulai melakukan peningkatan fokus masalah kesehatan terkait kesehatan reproduksi dan keluarga berencana pada tahun 2000 hingga 2006. Pada tahun 2010-2012 JHpiego mulai memfasilitasi masalah kesehatan ibu, bayi baru lahir, dan kesehatan anak di tingkat kecamatan. Program ini berada dibawah naungan U.S. Agency for International Development, Maternal and Child Health Integrated Program (USAID’s MCHIP).

Seperti yang saya alami waktu hamil anak kedua tahun 2015, saya mendapat kunjungan dan pendampingan dari dinas kesehatan kota semarang yang bertugas di Puskesmas kecamatan Ngaliyan tempat saya tinggal. Kunjungan dilakukan 3 kali selama hamil yaitu semester 1,2 dan 3. Kemudian pasca melahirkan 2 kali kunjungan. Bahkan ibu Lurah juga terjun langsung berkunjung dan mendampingi ibu hamil dan nifas di wilayahnya, termasuk saya.Selama kunjungan petugas memberikan informasi dan menanyakan gejala-gejala komplikasi kehamilan dan masa nifas.

Tapi kini ternyata Kementrian Kesehatan kita sudah memberikan layanan yang lebih mudah dan efisien dengan adanya program SMSbunda. Dimana layanan ini memberikan informasi kesehatan ibu hamil dan nifas, sampai anak mencapai usia 2 tahun (1000 hari kehidupan pertama). Juga bertujuan untuk menurunkan 25% kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir.
Lanjut Membaca

Iklan