Lahirnya Ratuku

foto ketika amira lahir

foto ketika amira lahir


Apa sih yang anda rasakan ketika mendekati HPL ( hari perkiraan lahir) anak pertama?. Deg-degan, takut, nerves, ga doyan makan sampe ga bias tidur kah? Ya , itu lah yang saya rasakan ketika menanti kelahiran anak pertama. Sumpeh… ga bisa di ungkapin gimana gelisahnya hari-hari tersebut. Meskipun HPL anak pertama saya tanggal 28 Agustus 2013, tapi awal bulan Agustus sudah berasa gelisahnya.

Mungkin hal tersebut wajar dialami oleh setiap calon ibu yang akan melahirkan anak pertama. Disamping karena memang belum pernah mengalami, cerita-cerita dari orang terdekat juga turut andil mempengaruhi mindset kita tentang proses melahirkan. Sudah bisa ditebak, sebagian besar wanita berpendapat bahwa melahirkan adalah peristiwa yang sakitnya tidak ada bandingannya. Ngeri dong kalo denger cerita-cerita seperti itu?

Ga heran kalau ada sebagian calon ibu yang memilih melahirkan anaknya secara Caesar, dengan salah satu alasan tak ingin merasakan sakit yang katanya amat sangat. Belum lagi anggapan nanti jalan lahir “semakin longgar” setelah melahirkan, dan bisa mengurangi kepuasan suami. Disamping anggapan-anggapan miring mengenai melahirkan secara normal, Tapi saya tetap berencana untuk melahirkan secara normal.

Memang dari awal kehamilan saya sudah menanamkan mindset untuk melahirkan secara normal. Itulah yang menjadi alasan saya mantap memeriksakan kehamilan secara rutin di Bidan dan dokter kandungan hanya 3 bulan sekali dengan harapan nanti akan melahirkan dibantu oleh bidan tersebut. Disamping memang dekat dengan rumah, sang bidan sudah berpengalaman, saya juga ingin suami bisa mendampingi ketika saya melahirkan nanti. Karena dengar dari teman-teman bahwa kalau di Rumah sakit, suami tidak boleh mendampingi langsung proses persalinan.

Mungkin minset tersebut yang membuat saya tetap optimis meskipun di beberapa kali hasil pemeriksaan menunjukan tekanan darah saya yang sangat rendah rata-rata hanya 90/60 dengan kadar HB ( Hemoglobin ) hanya 10,6 gr/dl. Ukuran janin juga kecil, sehingga saya disarankan untuk tidak berpuasa. Tapi saya tetep optimis, bahkan Alhamdulillah bisa menjalankan ibadah puasa ramadhan dengan lancar ( Cuma bolong 2 kali lho.. ) dan sholat tarawih jamaah dimasjid selama sebulan.

Nah, habis lebaran barulah saya ngebut banyak makan dan juga rutin minum eskrim setiap hari. Hal itu dilakukan agar berat badan janin bisa melebihi berat minimal 2,5 kg. seneng juga sih, kapan lagi bisa makan eskrim Magnum tiap hari kalau ga waktu hamil begini? Hehehe…

Sampai tanggal 16 agustus 2013 saya tidak bisa tidur semalaman karena bolak-balik buang air kecil. Selain itu juga perut terasa sedikit kram sampai ke pinggul dan keluar sedikit flek coklat. Sedikitpun saya tidak mengira kalau itu tanda mau melahirkan, tapi kecapean saja. Karena waktu hamil 6 bulan saya pernah flek dan kram perut yang disebabkan oleh kecapean.

Awalnya saya mau periksa ke dokter kandungan sekaligus USG untuk mengetahui posisi dan berat janin. Tapi ternyata dokter yang dituju belum praktek karena masih mudik lebaran. Pagi harinya saya periksa ke Puskesmas terdekat sekalian periksa lab untuk mengetahui kadar HB saat itu. Alhamdulillah, kadar HB sudah meningkat menjadi 12 gr/dl tandanya aman jika melahirkan secara normal.
Dikamar periksa saya berkonsultasi dengan bidan tentang apa yang saya alami kemarin malam. Tapi sang bidan juga mengatakan hanya kecapean saja, karena apabila akan melahirkan harus diawali dengan keluarnya flek berwarna pink. Karena merasa belum mengeluarkan flek pink tersebut, maka saya semakin yakin memang belum waktunya akan melahirkan. siang harinya saja saya sempat membuatkan pizza mie kesukaan suami.

Sore harinya saya merasa kram semakin sering dan semakin sakit, perasaan jadi making ga karuan. Karena penasaran saya coba Tanya tetangga yang kebetulan lagi pada kumpul di depan rumah, karena malamnya akan ada tirakatan malam 17-an didepan rumah.

“ itu namanya sudah kontraksi “
“ iya tante, itu tanda nya mau lahiran..”
“ ayo cepet ke rumah sakit”
“ lha pak amin mana?”
“ cepet siapin mobil, kita bawa tante kerumah sakit?”
“ sudah disiapkan tas yang mau di bawa?”
“ ayo ke rumah sakit mana?”

Duh, ibu-ibu malah pada heboh padahal saya masih santai-santai aja dan bilang mau nunggu suami pulang. Memang malam itu suami mengisi ceramah di dua tempat. Saya coba telpon bidan tempat saya priksa rutin, dan menceritakan apa yang saya alami. Tapi si bidan malah bilang “ mbak, kalau sudah tidak bisa tertawa lagi baru nanti dating ke tempat saya yah”. Waduh tidak bisa tertawa lagi? Jadi penasaran memang sesakit apa sih orang melahirkan sampai tidak bisa tertawa?.

Semakin lama kramnya semakin manjadi dan semakin sering, tapi saya berusaha menenangkan diri dengan berjalan-jalan sambil membaca buku “ melahirkan tanpa rasa sakit” yang dibelikan suami. Saya juga berusaha menerapkan hypnobirhting dengan terus bersugesti bahwa

“melahirkan itu proses alamiah, jadi semua wanita bisa melakukannya”,
“ semakin kontraksinya sering dan kenceng, maka semakin cepat saya melahirkan”
“ meskipun tidak nyaman dengan kontraksi ini, tapi saya ikhlas, saya pasrah padamu Ya Allah”

Terus menerus saya berusaha mensugesti diri sambil mempraktekkan mengatur pernafasan seperti di buku yang saya baca. Sampai dengan pukul 23.00 suami pulang dan langsung mengajak saya ke bidan, tapi saya menolaknya karena merasa masih bisa tertawa hehehe…

Kemudian suami sholat hajat didepan saya berbaring, dengan harapan agar dimudahkan ketika saya melahirkan nanti. tetapi baru satu rakaat tiba-tiba “ pyur..”. Seperti ada sesuatu yang meledak di dalam perut, dan pakaian dan kasur basah. Karena kaget saya langsung beristighfar, dan suami membatalkan shalatnya. “ sepertinya ketubanku pecah say” ucapku pada suami.

Langsung saja suami keluar rumah dan belum juga bicara tetangga langsung sigap “ mobil sudsah stand by om, mau dianter kemana?” . Subhanallah, ternyata tetangga ku sudah siap dengan mobilnya yang sudah di stater di samping rumah. Tanpa basa basi suami langsung membopong saya ke dalam mobil, dank e bidan diantar beberapa tetangga yang memang masih kumpul di depan rumah setelah acara tirakatan.

Karna saking gugupnya, sesampainya didepan bidan suami tersandung dan terjatuh sambil membopong saya (Kasiah banget yak? Lup u pul deh say). Dan ketika di periksa bidan ternyata baru “bukaan 1” tapi ketuban sudah pecah. Mengetahui hal tersebut para tetangga yang mengantar menyarankan agar saya dibawa ke rumah sakit saja karena beresiko. Tapi saya tetap bersikukuh ingin berusaha melahirkan normal di bidan.

Selama dibidan suami terus mendampingi sambil terus member semangat. Duh bersyukur banget, karena suami berani mendampingi proses persalinanku dan rela tangannya di remes-remes ketika kontraksinya terasa sangat kuat. Tak henti-tentinya dia berdzikir bahkan sholat hajat entah sampai berapa kali.

Dan akhirnya, Alhamdulillah… putri kecil ku yang kami nanti-nantikan lahir juga pada pukul 04.10 wib. Kecil mungil dan menggemaskan dengan berat 2,5 kg dan panjang 47 cm. tak henti-hentinya kami mengucap syukur, bahkan suami sampai menangis karena terharu.

Semoga kelak menjadi putri yang sholehah ya nak… bisa menjadi pemimpin, pejuang dan pengusaha yang dermawan seperti Khadijah istri Rasul. Sesuai dengan namamu “ Amirah Khadijah Mahardhika”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s