MEMBANGKITKAN KEMBALI “SEMANGAT” MEMASAKKU

Memasak adalah salah satu pekerjaan rutin seorang ibu rumah tangga, bukan hanya sekali sehari, bahkan bisa 2-3 kali sehari. Mungkin untuk orang yang tidak passion memasak hal itu akan sangat membosankan, tapi ternyata hal itu juga terjadi padaku akhir-akhir ini. Terutama setelah lebaran Idul Fitri kemarin. Padahal aku termasuk orang yang suka memasak, karena orang tua memiliki warung makan dan waktu dijakarta setiap hari sebelum berangkat kerja membantu ibu memasak di warung.
Entah mengapa? Sepulang dari mudik lebaran, aku jadi mogok masak. Kecuali pagi hari wajib, karena kami memiliki kebiasaan mewajibkan diri untuk berbagi nasi bungkus di pagi hari dengan pemulung atau tukang sapu jalanan di sekitar rumah. Biasanya lauk di sesuaikan dengan menu sarapan kami. Tapi sekarang ga jauh-jauh dari mie/ bihun goreng dan telur dadar. Jumlah bungkusannya pun berkurang drastis, hanya setengah dari biasannya.
“ Maaf ya say, hari ini honey engga masak? “ itulah pertanyaan wajibku setiap hari, dan suamiku menjawab “ iya ga apa-apa say, nanti aa makan di luar saja. Honey beli lauk untuk makan sama nurul (adekku) “. Dia memang suami yang tidak pernah menuntut banyak dari istrinya. 1-3 hari mungkin masih wajar, tapi hal ini terjadi hampir 1 ½ bulan. “ kenapa kok sekarang jadi engga semangat masak?” Tanya suamiku yang merasa ada yang tidak biasa dengan istrinya. “ iya ya ? kok aku jadi ga semangat masak?” tanyaku dalam hati juga.
Sebenarnya aku merasa kasihan kepada suami dan adik harus sarapan mie goreng dan telur dadar tiap hari, makan siang dengan soto dan makan malam pecel lele warung depan. Mungkin pemulung dan tukang sapu yang kami beri nasi juga merasa bosan dengan menu yang itu-itu saja. Belum lagi biaya yang di keluarkan untuk jajan di luar lebih banyak dari biasanya masak sendiri.
Sampai suatu pagi, sehabis sholat dhuha aku mencoba melakukan self theraphy dengan ego state theraphy . Yaitu berdiskusi dengan bagian-bagian lain yang ada dalam diri kita untuk mengetahui apa yang diinginkannya. Ilmu ini saya dapat dari Bapak Bambang Nugroho dalam salah satu seminarnya. Dan ternyata, berhasil….
Dari dialog yang cukup lama, saya tahu bahwa ternyata bagian tubuh saya yang menyukai memasak dan suka di puji merasa tersinggung dan “ ngambek” dengan sikap suami. Selama bulan ramadhan suamiku jarang sekali berkomentar apa lagi memuji hasil masakanku, bahkan lebih sering buka puasa diluar dari pada di rumah. Padahal aku sudah memasak dengan sepenuh hari dan cinta, Kalau pun makan dirumah komentarnya “ kok keasinan ya say?”.

Memang selera makanan kami berbeda, saya dari Tegal maka lebih suka makanan yang cenderung asin, sedangkan suami dari Jepara dan lama tinggal di Semarang jadi lebih suka makanan yang cenderung manis. Meskipun kadar garam sudah dikurangi, tetap saja keasinan di lidah suamiku.
Hal itu jauh berbeda ketika kami pulang ke rumah mertua, setiap kali makan masakan ibu maka otomatis suami akan memuji “ wah enak ya say? Berasa, Seger banget… coba dong say kamu masaknya seperti ibu “ ucapnya tanpa memikirkan perasaan ku  Mungkin tujuan suamiku baik agar aku memasak lebih baik, tapi seringnya ego – ku menolak dan emosi yang muncul gregetan, kesel, dan jealous. “ ya iyalah jelas berasa masakannya, ibu kan selalu pakai penyedap di setiap masakannya. Sedangkan aku dilarang pakai penyedap” belaku dalam hati.  Maka, setiap pulang aku tidak pernah memasak, alih-alih agar suami bisa menikmati masakan ibunda tercinta nya.  Astagfirullah.. harusnya aku tidak boleh bersikap seperti itu.
Owh ternyata itu sebabnya… Ya Allah, sungguh pikiran sadarku tidak pernah berfikir sejauh itu. Tapi syukurlah karena bisa ditemukan penyebab dari masalah ku selama ini, dan bisa segera menyelesaikannya. Maka dalam diskusi tersebut aku berusaha berdamai dengan bagian tubuh ku yang menyukai memasak dan suka di puji tadi dan meminta mereka untuk memaafkan suamiku.

Tidak mudah memang untuk meluluhkan dan meyakinkannya, tapi aku terus berusaha meyakinkan bahwa maksud suamiku adalah agar aku lebih baik dalam memasak. Memasak bukan hanya untuk diri dan keluargaku saja, tapi juga untuk orang lain agar mereka lebih sehat dan semangat bekerja.akhirnya dia pun setuju, untuk mensupport tubuhku untuk kembali semangat memasak.

Selesai berdiskusi aku menonton recording kuliyah online dengan tema “ menyusun menu 10 hari “, dan langsung dipraktekkan, karena untuk men- triger agar setiap hari memasak lagi.

Kebetulan tanggal 5 Oktober 2012 kemarin aku ketempatan arisan Dawis di rumah, tanpa pikir panjang langsung memutuskan untuk memasak Soto Betawi. Masakan andalanku setiap ada acara di rumah, dan sudah teruji rasanya. Kalau pada acara-acara sebelumnya aku selalu dibantu ibu-ibu tetangga, maka pada acara ini aku ingin memasak sendiri untuk menguji kemampuan memasakku.
Setelah matang, aku persilahkan suami untuk mencicipinya. “ wah luar biasa, istriku memang pinter memasak” ucap suamiku. Kaget dan Alhamdulillah….. “ bu, tolong pesen sotonya satu mangkok lagi yah? “ ucapnya lagi dengan nada bercanda karena panggilanku bukan ibu. “ yang bener say?” tanyaku tak percaya, “ iya, bener , sotonya enak banget jadi pengen nambah lagi, boleh kan? “ pintanya . “ iya , boleh banget pak.. “ jawabku dengan senang dan langsung kedapur membuatkan soto untuk dia lagi.

Terima kasih ya Allah, aku bisa membahagiakan suami dengan masakanku, dan aku juga ikut bahagia.
Rasa bahagia itu bertambah ketika soto Betawi andalanku di suguhkan kepada ibu-ibu yang datang untuk arisan di rumah. Karena respon mereka sangat baik dan menyenangkan, “ enak tante, rasanya kok khas yah? Beda nech kaya soto biasanya? Resepnya apa? Bisa pesen buat arisan dirumah?” puji mereka. Alhamdulillah… itu adalah tanda mereka menyukai masakanku, dan rasa capek karena lebur masak langsung hilang seketika.Terima kasih ya Allah.. kau beri hambamu ini kemampuan untuk membahagiaan orang lain dari masakan.

Bagiku kejadian itu adalah sebuah titik balik untuk kembali semangat memasak Seperti “ habis gelap, terbitlah terang”. Dengan semboyan baru “ make people happy with food” saya berjanji untuk terus belajar menjadi pribadi yang terbuka terhadap kritikan dan terus belajar memasak yang lebih baik. Agar lebih banyak orang yang bahagia dengan masakanku.

Alhamdulillah…
Sekarang bungkusan pagi kami sudah lebih banyak dari biasanya. Tapi yang paling penting, kami selalu berdoa agar kebiasaan ini bisa istiqomah dan menginspirasi orang lain untuk berbagi kepada sesama dari hal yang paling bisa kita lakukan dan kita miliki.
Amin….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s